Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela



Judul
Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela
Pengarang
Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit
Gramedia Pustaka Utama (2007)


Toto-Chan adalah buku yang sudah lama saya ingin baca, tapi terlupakan karena godaan buku lain. Dan akhirnya setelah sekian lama, ketika tak ada buku lain yang lebih menarik, ketika serial Diary si Bocah Tengil tak kunjung datang, ketika semua novel fantasi tampak membosankan, saya putuskan untuk beli dan baca buku ini.
Kaget adalah kesan pertama ketika saya menyelesaikan bab pertama buku ini. Gila, baru 2 lembar dan udah selesai bab pertamanya. Dan ketika baca bab kedua, kata gila terucap lagi. Dan ketika selesai di bab ketiga, saya menyadari bahwa bab yang pendek-pendek seperti ini justru membantu saya, yang jarang bisa duduk berjam-jam hanya untuk baca. Actually, ketika kita baca novel yang satu bab nya bisa puluhan halaman, kita dibuat dilema. Mau dikelarin, masih banyak banget. Mau ditunda, penasaran. So, bab yang pendek-pendek ini sangat membantu buat saya.
Toto-chan, atau judul aslinya "Gadis Cilik di Jendela" adalah buku yang menceritakan seorang gadis kecil, Toto-chan, yang memiliki tingkah sedikit antrimainstream sehingga harus dikeluarkan di hari-hari pertamanya di sekolah. Guru-guru Toto-chan kelabakan dan tidak sanggup menghadapi tingkah Toto-chan yang aneh-aneh. Membanting meja, mencoret-coret meja, sampai berdiri di pinggir jendela kelas dan ngobrol dengan pemain musik jalanan (baca : pengamen) di saat jam pelajaran. Hampir setiap hari dia dihukum berdiri di lorong, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah.
Well, sejujurnya saya pribadi mengerti keadaan Toto-chan. Toto-chan membuat saya kembali melihat diri saya di masa lalu. Rasa ingin tahu anak-anak, kadang memang membuat orang dewasa jengkel. Untungnya Toto-chan memiliki keluarga yang sangat mengerti keadaan anaknya, dan akhirnya memindahkan anaknya ke sekolah lain yang bisa menerimanya. Bukan dengan memarahi anaknya, karena kenakalan yang diperbuatnya. Catat.
Saya benar-benar tidak menduga, bahwa buku ini bakal sebegitu menariknya buat saya. Kalau Anda melihat, sesungguhnya tidak ada yang terlalu istimewa dari buku ini. Diksi yang digunakan bukan diksi-diksi dewa seperti pada novel-novel pada umumnya. Susunan kalimatnya standar bahkan sederhana, hingga hampir semua kalangan usia bisa menikmati buku ini. Ceritanya pun sederhana, menceritakan kehidupan Toto-chan yang sangat anak-anak, dengan keluarga yang sangat bijak, sekolah dan teman-teman yang menyenangkan, dan kepala sekolah yang brilian. Tapi di luar itu semua, saya menganggap buku ini punya dua kekuatan utama. Pertama, adalah cerita yang tulus. You know, ada pepatah bilang, 'Bicaralah dengan hati, maka hati pula yang akan mendengarnya'. Seperti itulah rasanya ketika saya membaca buku ini. Dan kekuatan yang kedua adalah pesan yang kuat. Ya, meskipun sederhana, tapi pesan yang disampaikan di buku ini sangat kuat. Bagaimana ibu Toto-chan mengajari bagaimana seharusnya menjadi seorang ibu yang alih-alih mengharuskan anaknya untuk berbuat ini itu, tapi membiarkan Toto-chan berkembang menjadi dirinya sendiri. Dan tentu saja, bagaimana seharusnya para pendidik bekerja, seperti yang dicontohkan Mr Kobayashi, kepala sekolah Tomoe, tempat Toto-chan belajar. Ya, para pendidik harus dan wajib membaca buku ini.
Sebenarnya, dari sepertiga pertama buku ini saya sudah bisa membaca bahwa tokoh utama buku ini bukan Toto-chan, seperti yang tertulis pada cover buku. Akan tetapi kepala sekolah lah, pemeran utamanya. Begitu banyak hal yang ditulis tentang kepala sekolah. Hingga akhirnya di bagian epilog, dugaan saya dibenarkan oleh penulis bahwa buku ini memang ingin menyampaikan bahwa 'Hai para pendidik, jadilah seperti Mr Kobayashi. Dialah contoh pendidik sejati. Mendidik dengan hati, bukan hanya dengan isi kepala Anda'.

Animal Farm

 Judul
Animal Farm
Pengarang
George Orwell
Penerbit
Gramedia Pustaka Utama

Sejujurnya saya tertarik dengan buku ini karena bosen dengan bacaan novel yang berat-berat. Saya tertarik dengan cover dan judul bukunya yang menurut saya lucu dan terlihat 'ringan'. Plus di blurb nya ditulis bahwa ini novel klasik. Weis, tambah menarik aja ini buku. So, dengan mantap akhirnya saya beli buku ini.

    Cerita bermula dari sebuah mimpi seekor babi berjuluk si Major Tua yang hidup bersama hewan-hewan lainnya di Peternakan Manor milik Pak Jones. Dalam mimpinya itu, si Major Tua melihat bahwa hewan-hewan akan bisa hidup bebas tanpa dikekang dan diperbudak oleh manusia seperti yang saat ini terjadi. Major Tua menganggap bahwa kehidupan para hewan di peternakan saat ini tak ubahnya seekor budak yang dipaksa terus bekerja untuk kepentingan manusia, dan tidak diperhatikan hak-haknya seperti makan yang cukup, waktu istirahat, dan sebagainya. Major Tua kemudian mengumpulkan seluruh hewan di peternakan dan menceritakan mimpinya itu kepada seluruh hewan di peternakan.

    Tak lama setelah peristiwa itu, Major Tua meninggal. Namun ternyata mimpinya tidak mati. Ada dua ekor babi lain  yang menganggap serius mimpi Major Tua, dialah Snowball dan Napoleon. Meskipun memiliki mimpi yang sama, tapi kedua babi ini memiliki sifat dan idealisme yang berbeda. Snowball adalah babi yang pandai dan penuh ide tetapi tidak suka berdebat dan retorika, pejuang, loyal, dan tidak kaku. Sementara Napoleon kebalikannya. Ia sebenarnya tak terlalu pandai, tapi pintar beretorika. Ia juga seorang yang disiplin dan keras. Dipimpin oleh kedua babi ini, seluruh hewan di peternakan akhirnya mengadakan pemberontakan ke pemilik peternakan, Pak Jones. Dalam pemberontakan itu, mereka berhasil mengusir Pak Jones dan merebut peternakan, serta mengubah nama peternakan menjadi Animal Farm. Sesaat setelah para hewan mendapatkan kebebasannya, mereka kemudian membuat 'Tujuh Hukum' dan menyebarkan ideologi binatangisme dengan slogannya, 'Kaki empat baik, kaki dua jahat' yang berarti semua makhluk berkaki empat (termasuk burung, karena sayap dianggap kaki, bukan tangan) , dan makhluk berkaki dua (atau yang punya tangan) adalah jahat.

    Membayangkan bagaimana para hewan itu melakukan pemberontakan, kemudian membuat hukum, dan menyebarkan paham binatangisme membuat saya senyum-senyum sendiri. Saya membayangkan seekor babi berorasi, sementara hewan-hewan lain duduk mendengarkan, dengan bahasa yang entahlah, tak terbayangkan. Lucu dan menarik.

    Animal Farm menjadi salah satu peternakan yang maju. Namun nampaknya, Napoleon tidak mau ada dualisme kepemimpinan. Oleh karenanya, dengan berbagai tipu muslihat ia menyebarkan fitnah yang mengakibatkan Snowball terusir dari Animal Farm. Pun setelah Snowball terusir, setiap ada kesalahan di peternakan, maka Napoleon bersama babi-babi lainnya akan mengatakan bahwa 'semua ini adalah ulah Snowball. Snowball diam-diam datang ke peternakan dan merusak ini semua'. Hingga karena seringnya diulang, pada akhirnya semua hewan di peternakan (yang sebagian besar bodoh dan dengan mudah dibodohi oleh babi) percaya bahwa Snowball yang pada awalnya adalah salah satu pahlawan dalam pemberontakan, menjadi sosok penghianat yang harus dilenyapkan.

    Sampai disini saya sudah mengubah persepsi saya tentang buku ini. Ini bukan lagi buku yang lucu, buku ini mencoba menyampaikan keadaan sebuah negara dengan segala intrik politik, perebutan kekuasaan, pembodohan rakyat, perbudakan, dan keadaan menyedihkan lain dengan cara yang 'lucu' dan mudah diterima. Dan benar saja, setelah Napoleon menjadi penguasa tunggal, ia kemudian 'membodohi' rakyatnya dengan mengubah Tujuh Hukum dasar di Animal Farm agar sesuai dengan keinginannya. Apa itu? Penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan golongan.  Salah satu hukum dasar yang dilanggar adalah 'Binatang tidak boleh minum alkohol', menjadi 'Binatang tidak boleh minum alkohol secara berlebihan'. Dan berhubung semua hewan tidak bisa membaca, mereka terima-terima saja ketika juru bicara Napoleon (yang juga seekor babi) menjelaskan bahwa ingatan mereka tentang tujuh hukum dasar salah, dan nyatanya begitulah yang tertulis. Demi kepentingan para babi yang suka minum alkohol. Puncaknya adalah ketika pada akhirnya Tujuh Hukum dasar yang awalnya tertulis 'Semua hewan sama' menjadi 'Semua hewan sama, tetapi beberapa hewan lebih dari yang lain'. Hukum ini tidak hanya mengubah dasar ideologi, tetapi sekaligus memberi kuasa mutlak kepada para babi (penguasa) untuk bertindak semau mereka. Dan sekarang coba lihat dunia nyata kita hari ini? Ada kemiripan? Atau hanya kebetulan?

    George Orwell menggambarkan keadaan manusia, kita, sekarang dengan sebenar-benarnya, senyata-nyatanya. Tidak lebih, tidak kurang. Bagaimana sebuah negara lahir dari sebuah mimpi akan kebebasan, perjuangan bersama untuk mencapai kebebasan itu, pemberian kekuasaan, dan kemudian kekuasaan membuat mereka lupa dan terlena. Hukum dan kebijakan bukan lagi untuk rakyat, tapi untuk diri dan kelompoknya. Sementara rakyat biasa yang bodoh dan mau dibodohi hanya bisa menerima keadaan, mengenang keadaan mereka dulu, perjuangan mereka, dan keadaan mereka hari ini. Dan ketika mereka menyadari bahwa tak ada yang berubah, bahwa mereka masih sama menderitanya, masih sama-sama tidak bebas, semuanya sudah terlambat. Mereka hanya bisa pasrah dan menunggu ada pemberontakan berikutnya.
   
    Akhir buku ini tidak kalah mencengangkan. Tidak hanya hukum yang sudah tidak berbekas, tapi bahkan ideologi dasar juga diubah. Ideologi yang awalnya, 'kaki empat baik, kaki dua jahat' diubah menjadi 'kaki empat baik, dan kaki dua lebih baik'. Lalu apa itu artinya para babi (sebagai penguasa) tidak merendahkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa kaki dua lebih baik, padahal kita tahu babi berkaki empat. Ternyata tidak, karena di akhir buku ini, Napoleon dan para babi lainnya muncul di peternakan dengan berjalan dengan dua kaki dan dua kaki lainnya memegang cambuk. Mereka secara diam-diam belajar menjadi 'manusia'. Tidak perlu dijelaskan mengapa mereka ingin menjadi seperti manusia dan membawa cambuk, mereka ingin menjajah saudara sebangsanya. Persis seperti yang terjadi di negara kita saat ini, dan mungkin juga negara-negara lain di dunia.

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-gunungpun Bergema)

 
Judul
And The Mountains Echoed (9786029225938)
Pengarang
Khaled Hosseini
Penerbit
Mizan Pustaka Utama

    Jangan berharap terlalu tinggi, agar tidak terlalu sakit apabila terjatuh. Itulah saran saya kepada kalian-kalian yang hendak membaca buku ini. Masalahnya, saya baru saja mengalami kejadian itu, berekspektasi terlalu tinggi, dan kemudian 'blak', jatoh, sakit.

    Kutu mana yang tidak tahu The Kite Runner coba? Novel legendaris yang mendapat penghargaan dari mana-mana. It make you hope that the other books will be as great as it. Termasuk kata temen-temen saya yang sudah pada baca And The Mountaincs Echoed, hampir semuanya berkomentar positif. Lantas bagaimana caranya supaya saya tidak berkekspektasi tinggi? No other way.

    Well, mungkin prolog saya terlalu menyudutkan buku ini. But yang perlu kalian tahu, ini hanya pendapat pribadi saya ya. So subyektif banget. Jadi, silahkan cari review lain kalau kalian ga setuju dengan pendapat saya, atau baca sendiri bukunya dan silahkan tentukan pilihan Anda.

    Sejujurnya, beberapa bab di awal buku ini bener-bener bagus. Cerita yang disajikan Khaled sangat ngena di hati dan kalimat-kalimat yang digunakan juga pas. Yang saya maksud bagus disini adalah dari awal cerita, bagaimana ikatan sebuah keluarga, utamanya antara kakak (Abdullah) dan adik (Pari) harus dipisahkan oleh sang ayah (Saboor) yang sejatinya juga tak menginginkan itu, tapi keadaan memaksanya. Bagaimana tangis sang ayah dan Abdullah saat perpisahan terjadi, ketabahan mereka, luka batin mereka, semuanya diceritakan dengan begitu sempurna. It makes me think, it'll be great story.
  
    Cerita berkembang, alur berpindah fokus kepada hidup sang adik, Pari, setelah ditinggal ayah dan kakaknya. Sementara kesedihan sepasang ayah dan kakak tak pernah muncul lagi dalam buku ini.  Cerita semakin berkembang dan kali ini panggung milik ayah tiri Pari, yang ternyata memiliki disorientasi seksual, menyukai pembantunya (Nabi), dan akhirnya meninggal dalam pelukan Nabi. Sepeninggal ayah tiri Pari, fokus cerita kembali berubah, kali ini kepada Nabi dan seorang dokter yang membantu korban perang di Afghanistan, Markos. Cerita tentang Pari menghilang, Abdullah apalagi.

    Sampai disini, seingat saya cerita baru sampai di pertengahan buku. And see, sudah berapa kali fokus cerita berganti? Dan pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya adalah, 'Dari semua cerita yang ditampilkan ini, mana cerita utamanya? Abdullah dan Pari? Pari dan keluarga barunya? Nabi dan ayah tiri Pari? Nabi dan Markos? Atau mana?'. Sampai disini, sudah cukup bagi saya untuk mengurangi satu bintang dari buku ini. Pertanyaan kedua adalah, 'Apa hubungan antara satu cerita dengan cerita lain?'. Awalnya saya berharap bahwa di akhir buku, semua cerita-cerita ini akan bermuara pada suatu peristiwa besar atau semacamnya. Tapi ternyata tidak. Semua cerita seakan berdiri sendiri-sendiri, sehingga kalaupun Anda terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk membaca, maka it's oke, itu tidak akan mempengaruhi terlalu banyak plot cerita yang sudah ada di bayangan Anda.

    Nah, setelah melalui perjalanan panjang dengan side story yang beraneka ragam, di beberapa bab terakhir dari buku ini, sosok yang telah lama hilang muncul lagi. Dialah Pari dan Abdullah. Abdullah yang diawal buku diceritakan sebagai seorang anak berusia 10 tahun, di akhir buku sudah menjadi seorang ayah tua yang pikun. Lalu bagaimana cerita hidupnya selama berpuluh-puluh tahun ini? Bagaimana cara dia menghadapi kenangan pahit masa lalunya? Silahkan Anda berimajinasi sendiri, karena tak akan Anda temukan di buku ini. Saking randomnya buku ini, maka jika Anda adalah orang yang sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk membaca, Anda cukup membaca bagian awal buku ini dan beberapa bab terakhir saja, maka Anda sudah akan mendapat satu cerita secara utuh. Bahkan menurut saya itu akan lebih baik daripada Anda membaca buku ini secara keseluruhan. Well, kalau secara umum saya memberi nilai 60 untuk buku ini, maka apabila semua side story dari buku ini dibuang dan hanya menyisakan beberapa puluh halaman dari awal dan akhir buku, mungkin saya bisa memberikan nilai 70 bahkan 80.

    Anyway, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Bagian awal dari buku ini, cerita perpisahan Abdullah dan Pari sangat bagus. Dan kemudian cerita pertemuan mereka kembali tak kalah memukau. Saya berpikir, bagaimana jika buku ini hanya berfokus pada mereka saja? Saya rasa hasilnya akan lebih bagus daripada harus menampilkan side story dengan tokoh-tokoh baru yang toh pada akhirnya tak memiliki peran apapun dalam buku ini. But, seperti yang saya bilang di awal. Ini adalah pendapat pribadi saya. You can choose other review if you do not agree with me.

5cm

 
Judul
5cm (978-979-790251762)
Pengarang
Donny Dirgantoro
Penerbit
Grasindo (2005)

    Bagi penggemar buku  dan film '5cm', mohon maaf sebelumnya karena saya harus menyebut bahwa buku ini dibawah ekspektasi gw. Gw ga berani ngasih rate lebih dari 7 (dari 10) untuk buku ini. Mohon maaf.

    Kalau boleh jujur, ide cerita buku ini mainstream banget, yaitu tentang persahabatan lima orang remaja. Tapi berhubung buku ini karya penulis Indonesia, kemainstreaman itu bisa diterima mengingat tema-tema itulah yang laris di pasar Indonesia, selain cinta dan perjalanan hidup. Yang bikin gw heran adalah ketika gw beli buku ini, buku ini sudah memasuki cetakan yang ke-16. Sebuah pencapaian yang cukup luar biasa mengingat tak banyak buku karya penulis lokal yang bisa selaku ini.

    Adalah Arial, Zafran, Riani, Genta, dan Ian tokoh utama dalam buku ini. Mereka berlima memiliki sifat yang berbeda-beda (namun tetap satu jua). First impresion ketika baca novel ini adalah bagaimana penulis menggambarkan watak dan sifat tiap tokoh. 'Zafran sangat menyukai sastra serta puisi dan bla bla bla'. Suatu penggambaran tokoh yang 'mekso' dalam sebuah novel. Sama juga ketika berkenalan dengan seseorang dalam kehidupan nyata, tak perlu lah berkata 'Saya Zafran. Saya sangat menyukai sastra dan puisi'. Cukup perhatikan cara bicaranya, tingkah lakunya, maka kita akan tahu orang seperti apa Zafran.

    Cerita dari awal hingga pertengahan buku berjalan lambat. Bagian paling menarik dari buku ini adalah ketika mereka berlima memutuskan untuk tidak saling bertemu selama sekian bulan dan saat mereka akan bertemu lagi adalah ketika mereka akan diajak Genta mendaki Gunung Semeru. Cerita perjalanan mereka dari Jakarta, naik kereta, hingga mendaki gunung semeru dengan berbagai adegannya menarik untuk diikuti. Sayang sekali, ada satu bagian side story yang sedikit mengganggu, yaitu cerita romance antara Riani, Genta, dan Zafran. Menurut gw, cerita romance yang ditampilkan di buku ini adalah yang paling tidak masuk akal. Dari awal buku, penulis mengiring opini pembaca untuk menyimpulkan bahwa 'Genta menyukai Riani, dan begitupun sebaliknya'. Namun di akhir cerita bukan Genta orangnya, tapi Zafran. Sebagai seorang pembaca, gw paham bahwa penulis sengaja melakukan ini, menggiring opini pembaca untuk kemudian memberikan kejutan tak terduga di akhir cerita. Kejutan yang merusak cerita gw pikir. Dalam buku ini tak satupun kalimat yang menunjukkan ketertarikan Riani pada Zafran, begitupun sebaliknya. Yang ada adalah keterikatan Riani dan Genta. Lalu di akhir cerita, surprise, Zafran jadian dengan Riani. Gw terkejut. Sungguh-sungguh terkejut.

    Hal lain yang membuat gw terpaksa mengurangi nilai untuk buku adalah kutipan-kutipan yang selalu diulang-ulang. Seakan penulis mau memaksa pembaca untuk terus mengingat kutipan ini. Dan itu bikin muak. Tak perlu terus diulang, asal kutipan itu benar-benar mengena di hati pembaca, otomatis pembaca akan mengingatnya.

    Well, apapun itu, novel ini telah difilmkan, juga telah dicetak ulang sebanyak 16 kali. Itu artinya banyak yang suka. No problem, selera orang beda-beda. But for me, i have to say 'no'.

The Fifth Mountain

 
Judul
The Fifth Mountain (9789792214208)
Pengarang
Paulho Coelo
Penerbit
Gramedia Pustaka Utama (2005)

    The Fifth Mountain adalah sebuah novel yang diangkat dari kisah Nabi Elia (atau Nabi Ilyas atau dalam agama Islam). Bedanya, kisah dalam novel ini tidak condong kepada agama tertentu, namun lebih kepada moral dan pelajaran yang bisa diterima oleh semua kalangan. The Fifth Mountain mengangkat kisah lain yang mungkin tak pernah tertulis dalam kitab-kitab atau dituturkan oleh para tokoh agama. Dan oleh karenanya, gw pun ragu apakah kisah ini bisa dipercaya atau hanya merupakan cerita fiksi biasa. Entahlah.

    Elia, terusir dari negaranya. Sang Raja menginginkan penangkapan dan pembunuhan terhadap semua orang yang dicurigai sebagai Nabi. Tak terkecuali Elia. Beberapa kali nyawanya berada di ujung kematian dan sebanyak itu pula Tuhan menyelamatkannya. Hingga pada akhirnya ia harus melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa dan ajarannya. Dalam novel ini, Coelo menggambarkan Elia sebagai seorang nabi yang sekaligus juga manusia biasa.  Coelo tak ragu menuliskan rasa takut dan khawatir Elia ketika nyawanya terancam. Coelo mencoba menunjukkan kepada pembaca bahwa walau bagaimanapun juga, nabi tetaplah seorang manusia yang juga memiliki rasa takut dan cemas.

    Di tengah pelariannya, Elia sampai ke sebuah desa. Namun begitu penduduk desa yang dilanda krisis kepercayaan kepada orang asing menaruh curiga kepadanya. Elia dianggap sebagai mata-mata musuh. Kecurigaan dan kebencian penduduk desa kepadanya semakin bertambah ketika anak dari janda yang menampungnya jatuh sakit dan meninggal. Di titik ini, Elia merasa Tuhan tidak adil kepada keluarga ini. Keluarga inilah satu-satunya yang percaya kepada Elia, tapi akhirnya malah harus menerima bencana ini. Namun tak ada yang bisa dilakukan Elia, ia tak bisa menghidupkan orang yang sudah mati, sehingga satu-satunya cara adalah berdoa dan memohon keadilan dari Tuhan. Dan agar permohonannya dikabulkan, Elia harus percaya kepada Tuhan.

    Elia mengajarkan kepada kita bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia dalam ketidakberdayaannya adalah dengan kembali kepada Tuhan, berdoa dan memohon. Dan untuk bisa memohon kepada Tuhan, kita harus percaya. Bagaimana mungkin orang yang tidak percaya kepada Tuhan, memohon pertolongan kepada Tuhan? Dan ketika kita percaya kepada Tuhan, itu artinya kita harus percaya terhadap semua keputusan-Nya, termasuk keputusan yang mungkin kita anggap buruk untuk kita, merugikan kita. Dan pada akhirnya kepercayaan itu akan mengantarkan kita pada rasa menerima, pasrah, dan juga syukur. Super.

    Nampaknya ujian Tuhan untuk Elia masih belum berakhir. Desa diserang. Dan seperti sebelumnya, penduduk desa menganggap Elia lah penyebabnya. Elia lah sumber bencana ini. Desa hancur. Tak ada yang tersisa kecuali orang tua, anak-anak, dan wanita. Elia pesimis. Tak ada yang bisa dilakukannya. Ia, bersama dengan salah satu anak di desa itu memutuskan untuk pergi meninggalkan desa. Atau bisa dikatakan Elia meninggalkan pengikutnya. Tapi apakah memang demikian pada akhirnya? Satu yang perlu kembali diingat, nabi tetaplah seorang manusia sehingga perasaan pesimis, takut, cemas itu wajar adanya. Akan tetapi, tentu Tuhan tidak akan memilih Elia sebagai nabi apabila ia sama dengan manusia biasa. Dan dalam buku ini, Elia membuktikan bahwa ia memang layak dipilih Tuhan sebagai nabi.

    Secara pribadi, gw menganggap The Fifth Mountain, meskipun tak sebagus The Devil and Miss Prym atau bahkan The Alchemist, namun tetap menarik untuk dibaca.